Yayasan Kebudayaan Indonesia–Tionghoa, yang didirikan Dahlan Iskan dan diketuai Lily, rutin memberikan beasiswa studi ke Tiongkok sejak delapan tahun lalu. Tahun lalu yayasan ini mengirim 350 calon mahasiswa ke sembilan universitas di Tiongkok, dan tahun ini jumlahnya diperkirakan sama. Peserta berasal dari berbagai daerah, termasuk Papua, Kaltim, dan pesantren Nurul Jadid Probolinggo, dengan pilihan studi beragam dari bisnis hingga kedokteran. Dalam acara Cap Go Meh di Galaxy Mall Surabaya, Dahlan Iskan berbicara dalam bahasa Mandarin tentang kesehatannya dan pengalaman belajar di Tiongkok saat berusia lebih dari 50 tahun.
*****
Bea siswa Yayasan Kebudayaan Indonesia – Tionghoa sudah menghasilkan banyak alumni. Mereka mengadakan Cap Go Meh di Galaxy Mall Surabaya selama tiga hari, sejak Jumat hingga Minggu.
Tiap tahun, sejak delapan tahun lalu, Yayasan yang didirikan Dahlan Iskan dan diketuai Lily itu mengirim calon mahasiswa ke sembilan universitas Tiongkok. Tahun lalu mengirim sebanyak 350 calon mahasiswa. Untuk pengiriman tahun ini sedang dilakukan seleksi tapi jumlahnya sekitar itu juga.
Latar belakang calon mahasiswa tersebut dari berbagai daerah termasuk Papua dan Kaltim, tamatan SMA dan madrasah Aliyah.
Pondok pesantren besar seperti Nurul Jadid Probolinggo termasuk yang tiap tahun mengirimkan calon mahasiswanya.
Pilihan studi di Tiongkok yang mereka pilih sangat bervariasi. Mulai dari bisnis sampai kedokteran.
Dalam talk show di Cap Go Meh tersebut Dahlan Iskan diminta bicara dalam bahasa Mandarin mengenai sakit yang dideritanya belakangan ini yang mereka ikuti dari Disway dan mengapa dia dulu belajar bahasa Mandarin di Tiongkok saat umurnya sudah lebih 50 tahun. Informasi lebih lengkap tentang ITC Centre bisa dibaca di sini: www.itccentre.com.(jto)
Sumber Harian:Disway Minggu 04-03-2018
